HOGERS
Bajoe Narbito

Tenang, terkesan  acuh, dan pendiam tampak dari pria dengan postur tinggi yang berpenampilan sederhana ini. Namun saat menyapa dan memulai pembicaraan ternyata bertolak belakang, cukup hangat dan bersahabat. Ketika ditemui Tee Box Café,  Panglima Polim Jakarta Selatan, mantan Direktur Utama Telkomsel ini mulai menceritakan seputar kedekatannya dengan motor Harley-Davidson.

Mengenal HD sejak masih remaja. Saat sang ayah yang seorang polisi, kerap membawa motor HD sebagai kendaraan dinasnya ke rumah. Dari sekedar memegang setang, mengenal bagian mesin, sampai akhirnya diijin-kan untuk mencoba.

Sebuah motor HD langsung didapat dari negeri asalnya, Amerika pada 1989. Namun, baru 1990, Bajoe Narbito yang lebih akrab dipanggil Pak Bayu dapat mengendarainya. Pasalnya saat beli belum memiliki surat-surat yang sah alias bodong.

Hampir 40 tahun kiprahnya di motor besar, terutama HD. Pengalaman ini membuatnya berbagi cerita dan ilmu dengan menulis buku tentang HD di Indonesia bersama Bro Suyono (mantan Kasum ABRI). Usai bebas tugas alias pensiun, Bro Bayu banyak meluangkan waktu untuk touring ke berbagai belahan dunia.

 Touring 40 hari di Amerika Latin mulai dari Brazil, Argentina, Chili, dan Peru. Alasan Bro Bayu dalam touringnya bukan semata karena keindahan. Namun mengandung maksud tertentu. Perjalanan  Tajalillahi ungkapnya. Kita merasakan adanya getaran atau energi  akibat dari bocoran medan magnet. Hal itu menjadikan kita semakin percaya dan takjub akan kebesaran-Nya. Touring juga mengajarkan kepada kita untuk lebih sigap dan melatih fokus otak.

Salah satu filosofinya Do The Best In Your Life, Don’t Think Too Much, Let God Do The Rest, diaplikasikannya dengan menjalani hidup apa adanya. Seperti yang Tuhan berikan saat ini. “Enjoy your life, hadapi saja apa yang kita dapat, naik motor macet atau bisa ngebut sampai 180 km perjam nikmati saja, semua sama,” ujar pria yang kini menggeluti dunia metafisika.

Live to Ride, Ride to Live adalah filosofi lain darinya. Kemanapun melangkah disitulah habitatnya. Artinya semua komunitas motor pernah diikutinya tanpa harus memandang strata yang disandangnya. Hidup ini seperti mimpi yang dipenuhi khayalan. Dengan berkhayal akan ada keinginan kita untuk mewujudkannya dengan bekerja keras.
 
Selain touring, traveling membaca buku adalah hobi lainnya. Separoh dari kamarnya dipenuhi buku.
 
Seperti pada umumnya bikers, hobinya menurun pada putranya. Namun Bro Bayu tidak pernah mengajak touring. “Biar dia memilih apa yang membuatnya hidup,” ukapnya mengakhiri pembicaraan.